Senin, 25 Juli 2011

DRAF MUSPIMCAB PMII KAB SERANG

 AGENDA ACARA
MUSYAWARAH PIMPINAN CABANG (MUSPIMCAB II )
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN SERANG


WAKTU
ACARA
KETERANGAN

12.00 - 13.00
Persiapan Panitia Dan Cheking Peserta
Panitia
13.00 - 41.00
Opening Ceremonial
1.       MC
2.       Menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars PMII
3.       Pembacaan kalam Illahi
4.       Prakata panitia
5.       Sambutan-sambutan
a)       Ketua Umum PMII Cabang Kabupaten serang
b)       MABINCAB
6.       Penutup doa



14.00 - 15.00
Cheeking peserta
Kesekretariatan
15.00 - 17.00
SESI I
Mekanisme dan tata cara Muspimcab II
SC
17.00 - 19.00
Ishoma
All
19.00 - 22.00
Siding pleno II
Progres report
a.       Ketua Umum PMII CabangKabupaten serang
b.       Ketua Komisaria Se-Kabupaten serang
c.       Ketua Rayon Se-Jombag
Ketua Cabang, Komisariat dan Rayon se-Kabupaten serang
08.00 - 10.30

Masing-Masing Komisi
10.30 - 12.30
Sesi II
Kaderisasi PMII
Fasilitator
12.30 - 13.00
Ishoma
All
13.00 - 14.30
Lanjutan
Gerakan dan evaluasi ekternal
Fasilitator
14.30 - 17.00
Sesi III
Koopri
Fasilitator
17.00 - 19.00
Ishoma
All
19.00 - 22.0
Sesi IV
rekomendasi
Fasilitator
10.00 - 12.00
Pengesahan MUSPIMCAB I
PKC/Ketum Cabang
12.00 - 15.00
Penutupan
Sie Acara


MEKANISME
MUSYAWARAH PIMPINAN CABANG (MUSPIMCAB I  )
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN SERANG Masa Khidmat  2010- 2011


1.       Masing-masing intitusi (PC, PK dan PR) Membuat laporan (Progres Report) selama beberapa waktu dalam rangka plaksanaan. Adapun Mekanisme progress report sebagai berikut:
    1. Nama lembaga, sekretaris  dan nomer SK Kepengurusan
    2. Jumlah kader (bagi rayon dan komisariat yang belum mempunyai rayon) / jumlah rayon (bagi komisariat yang mempunyai rayon)
    3. Program kerja dan capaianya
    4. Kendala hambatan dan solusi dalam menjalankan proker
    5. Rekomendasi
    6. Adapun format progress report sebagaimana terlampir
2.       Mendiskusikan beberapa konsep kaderisasi yang ada dikomisariat dan rayon
3.       Merumuskan dan menetapkan strategi pengembangan PMII Kabupaten serang
4.       Merumuskan dan menetapkan kaderisasi di tingkatan PMII Kabupaten serang
5.       Merumuskan rekomendasi pernyataan dari pokok pikiran yang di tetapkan MUSPIMCAB I   dan pernyataan situasi dan kondisi yang didasaran pada perkembangan kehidupan sosial terakhir
6.       Metode pelaksanaan
    1. Brainstorming bebas;
    2. Pendalaman materi;
    3. Presentasi atau input materi dari fasilitator
    4. Diskusi kelompok;
    5. Diskusi pleno;
    6. penetapan

7.       materi muspimcab
    1. pembacaan internal institusi PMII
    2. progress report
    3. kaderisasi bidang formal, informal dan non formal
    4. kaderisasi koopri
    5. rekomendasi



RANCANGAN KADERISASI BIDANG INTERNAL
Tentang
STRATEGI PENGEMBANGAN KADERSASI
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN SERANG

 
A.     PENDAHULUAN
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi yang mempunyai tujuan terbentuknya pribadi muslim yang berbudi luhur, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan (pasal 4/AD PMII). Tanpa terasa, keberadaan organsasi ini sudah setengah abad menjadi gerakan kaderisasi ektra kampus.
Kaderisasi PMII pada hakekatnya adalah totalitas upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk membina dan mengembangkan potensi dzikir, fikir dan amal soleh setiap insan pergerakan. Secara katagoris dapat dipilih dalam tiga bentuk yakni: pengkaderan formal bassic, pengkaderan formal pengembangan, dan pengkaderan informal, ketiga bentuk inilah yang harus di ikuti oleh segenap warga pergerakan sehingga pada saatnya kelak akan terwujud kader yang berkwalitas Ulul Albab.
Untuk mewujudkan kaderisasi yang ideal ditingkatan local sangatlah  mungkin jika mulai hari ini dilakukan secara serius dan penuh kesadaran akan tanggungjawab. aktivitas akademis fakultatif kampus bukan menjadi faktor yang utama dalam menghambat seorang kader untuk memproleh berproses pematangan gerakan yang lebih baik dari sisi skill maupun intelektual. Akan tetapi apabila kita memahami bahwa Ulul Albab adalah dimana seseorang kader memiliki keinginan yang kuat untuk mencari apa yang diinginkannya atau seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Dan citra Ulul Albab ini menjadi argumentasi PMII dari bawah samapi pusat untuk dijadikan relevansi gerakan yang menyatu didalam diri seorang kader
Persoalan sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara, seni budaya dan agama. Menjadi hal yang ramai dibilik media-media massa. Tentunya PMII sebagai organisasi mahasiswa yang intlektual yang memperjuangkan kaum minoritas harus mempunyai sikap yang tegas dan pembacaan yang cermat dan teliti dalam merespon dan menyikapi fenomena issu baik lokal maupun nasional dalam menjaga eksisteni organisasi. Maka untuk itu besar harapan PMII Cabang Kabupaten serang untuk besama-sama sahabat-sahabat komisariat dan rayon untuk mewujudkan kaderisasi yang berkwalitas yang sesuai dengan harapan kita kedepan
 
SISTEM PERKADERAN
PMII adalah merupakan suatu organisasi pengkaderan di tingkat mahasiswa yang mempunyai tujuan terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sebagai organisasi pengkaderan, PMII posisinya berada di luar (ekstra) kampus, yang secara bertahap terus melakukan proses kaderisasi, baik secara formal, non forma dan informal. Dan kalau dalam organisasi intra kampus, warga atau kader PMII sebagai media ekspresi (action) bagi kader-kader untuk melakukan proses penanaman nilai secara makro pada seluruh mahasiswa.
Proses pengkaderan non-formal perlu dilakukan oleh pengurus untuk menjawab kebutuhan strategis kader dalam mengisi ruang-ruang publik. Sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kader pada arah pengembangan kapasitas, skill pribadi (sesuai dengan kecenderungan dan keahlian fakultatif kader) serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi yang tidak hanya berorientasi untuk mengisi ruang-ruang kosong PMII (struktural dan kultural). Akan tetapi harus dengan cara pandang ke depan dalam wilayah yang lebih besar dan setrategis. Sehingga pendidikan dan pelatihan ini, harus juga harus mampu memberikan ruang akselerasi kader diluar keluarga besar NU, yang tentunya berangkat dari pemetaan terhadap kelompok-kelompok setrategis. Dengan pola ini diharapkan PMII mampu berperan dalam melakukan distribusi kader di semua lini.

A. Citra Diri Ulul Albab

Individu-individu yang membentuk komunitas PMII dipersatukan oleh konstruks ideal seorang manusia. Secara idelogis, PMII merumuskannya sebagai ulul albab-citra diri seorang kader PMII. Tanda-tanda Ulul albab secara umum didefinisikan yang pertama sebagai seseorang yang selalu dan bersungguh-sungguh mencari ilmu pengetahuan (olah pikir). Yang kedua seseorang mampu memisahkan yang jelek dan baik (mungkar dan batil). yang ketiga kritis dalam mendengarkan pembicaraan pandai menimbang-nimbang ucapan teori, proposi atau dalil yang ditemukan oleh orang lain. dan yang keempat bersedia menyampaikan ilmu kepada orang lain untuk memperbaika masyarakat. Dengan sangat jelas citra ulul albab disarikan dalam motto PMII dzikir, pikir dan amal sholeh.
Ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan secara lengkap kader tentang tan-tanda Ulul Albab digambarkan dalam sebagai sebagai ayat dalam al-qur’an.
1.      Al-Baqarah (2): 179
“dan dalam hokum qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai Ulul Albab, supaya kamu bertaqwa.
2.      Al-Baqarah (2): 197
“ dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai Ulul Albab.”
3.      Al-Baqarah (2); 296
“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang mendalam tentang Al-Quran dan Hadits) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dianugerahi al-hikmah itu, maka ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulul Albab-lah yang dapat mengambil pelajaran.”
4.      Ali-Imran  (3):190
dialah yang menurunkan al-kitab kepada kamu. Diantra (isi)nya ada ayat-ayat muhkamah itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat, Adapun orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari Tugas Akhir’wilnya, padahal tidak ada orang yang tahu Tugas Akhir’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan: “kamu beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami.” Dan kami tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan Ulul Albab.”
5.      Ali Imran (3): 190
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab.”
6.      Al-Maidah (5) 100
“katakanlah : tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka betaqwalah kepada Allah hai Ulul Albab, agar kamu mendapat keuntungan.”
7.      Al-ra’d (13): 19
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar-benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah Ulul Albab saja yang dapat mengambil pelajaran.”
8.      Ibrahim (14); 52
“(Al-Quran) ini adalah penjelasan sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar Ulul Albab mengambil pelajaran.”
9.      Shaad (38): 29
“ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran Ulul Albab.”
10.  Shaad (38): 29
“dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rakhmat dari Kami dan pelajaran bagi Ulul Albab.”
            11. Al-Zumar (39): 9 
“(Apakah kamu hai orang-orang musrik yang lebih beruntung)ataukah orang-orang yang beribadat diwaktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhanya? Katakanlah: “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sesungguhnya Ulul Albab-lah yang dapat menerima pelajaran.”
12.  Al-Zumar: (39): 17-18
“dan orang-orang yang menjauhi taghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah Ulul Albab.”
13.  Al-Zumar (39): 21
“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air langit dari bumi, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi Ulul Albab.”
14.  Al-Mu’min (40): 53-54
“dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa, dan kami wariskan taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi Bani Ulul Albab.”
15.  Al-Talaq (65):10
“Qallah menyediakan bagi mereka (orang-orang yang mendurhakai perinath Allah dan rasul-Nya) azab yang keras, maka bertaqwalah kepada Allah hai Ulul Albab, yaitu orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.”
      Dari elaborasi teks di atas, komunitas ulul-albab dapat dicirikan sebagai berikut : (secara skematik dapat dirumuskan dalam bagan)
a.       Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-manusia-alam.
b.      Berjiwa optimis-transedental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan/.
c.       Berpikir secara dialektis.
d.      Bersikap kritis.
e.       Bertindak Transformatif              

Sikap atau gerakan seperti ini bisa berinspirasi pada suatu pandangan keagamaan yang transformatif. Nah, Ulul Albab adalah orang yang mampu mentransformasikan keyakinan keagamaan atau ketaqwaan dalam pikiran dan tindakan yang membebaskan: , melawan thaghut.
                       
B. Ulul Albab Adalah Kader Pelopor
Ulul Albab itulah yang dalam bahasa pergerakan disebut dengan kader pelopor (vanguardist). Kepeloporan dalam pengertian apa? Siapakah sebenarnya kader pelopor tersebut?
Asal usul istilah pelopor berasal dalam khasanah politik. Pertama kali diperkenalkan oleh Lenin di Rusia pada sekitar tahun 1980-an. Istilah itu digunakan untuk menyebut suatu partai pelopor (Vanguard party). Artinya, kepeloporan pada mulanya bermakna politik. Dalam penertian lenian ini kepeloporan dimaknai sebagai kepeloporan politik atau propaganda. Partai pelopor

C. Macam Dan Pengertian Perakaderan PMII

Kaderisasi PMII pada hakekatnya adalah totalitas upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk membina dan mengembangkan potensi dzikir, fikir dan amal soleh setiap insan pergerakan. Secara kategoris dapat dipilih dalam tiga bentuk yakni: Perkaderan Formal, Perkaderan Nom Formal (Pengembangan) dan Perkaderan Informal. Ketiga bentuk ini harus diikuti oleh segenap warga pergerakan, sehingga pada saatnya kelak akan terwujud kader yang berkualitas ulul albab.
Perkaderan formal meliputi tiga tahapan dengan masing-masing follow-up-nya. Ketiganya itu adalah Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), Pelatihan Kader Dasar (PKD), dan Pelatihan Kader Lanjutan (PKL). Ketiga tahapan dengan follw-up yang menyertai itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, karena kaderisasi PMII pada hakekatnya merupakan proses terus menerus, baik di dalam maupun di luar forum kaderisasi (long-life-education).
Perkaderan Formal Pengembangan adalah berbagai pelatihan dan pendidikan yang ada di PMII. Perkaderan jenis ini dibedakan dalam dua macam, yakni 1) yang wajib diikuti oleh segenap kader secara mutlak, dan 2) yang wajib di ikuti sebagai pilihan. Yang sifatnya wajib mutlak, disamping sebagai pembekalan mengenai hal-hal dasar yang harus dimiliki kader pergerakan, juga merupakan prasyarat bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKD atau  PKL.
Sedang perkaderan informal adalah keterlibatan kader pergerakan dalam berbagai aktifitas dan peran kemasyarakatan PMII. Baik dalam posisi sebagai penanggung jawab, menjadi bagian dari team work, atau bahkan sekedar partisipan. Perkaderan jenis ini sangat penting dan mutlak diikuti. Disamping sebagai tolak ukur komitmen dan militansi kader pergerakan, juga jauh lebih real disbanding pelatihan-pelatihan formal lain, karena langsung bersinggungan dengan realitas kehidupan.
Di atas semua pelatihan tersebut terdapat satu pelatihan lagi yakni pelatihan fasilitator. Pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan kader-kader pergerakan yang secara terus menerus akan membina dan menangani berbagai forum perkaderan di PMII. Pelatihan lebih utama ditujukan bagi kader-kader potensial yang telah mengikuti semua bentuk perkaderan sebelumnya, dan yang telah teruji komitmennya terhadap PMII maupun aktifitas dan peran-peran sosial.
  
B.     STRATEGI PENGKADERAN PMII
Model yang digunakan oleh PMII didalam mendidik, membina, dan memunculkan potensi-potensi yang terpendam pada diri setiap kadernya adalah menggunakan tiga model pengkaderan yaitu pengkaderan formal, non formal dan informal. Dari ketiga model sehingga dapat mengarahkan kader menjadi loyalitas, komitmen, militansi dan intelektual yang dapat diandalkan sebagai penerus perjuangan.
Pengkaderan formal
Yaitu pengkaderan yang mengarahkan kader pada tahapan-tahapan dimana ia memahami PMII dari jenjang kaderisasi seperti MAPAB, PKD dan PKL, sehingga memiliki kecakapan khusus dari apa yang ia pahami kemudian bisa mengimlementasikan nilai-nilai tersebut baik untuk dirinya maupun social masyarakat, serta bangsa dan Negara.  Semakin tinggi kaderisasi formal yang ia tempuh maka menjadikan keharusan seorang kader untuk memberikan kontribusi yang lebih kepada PMII baik secara materi maupun non materi.
Pengkaderan non formal
Yaitu pengkaderan yang mengarahkan kader kepada pembinaan skill dan pengayaan pengetahuan. Skill ini bisa didapat dari penelitian minat dan bakat seorang kader sehingga mengharuskan kita untuk membuatkan wadah tersendiri sesuai dengan minat dan bakat yang ia miliki. Sedangkan pengayaan pengetahuan dapat diperoleh dari diskusi, pelatihan-pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pengkaderan informal
Yaitu pengkaderan yang mengarahkan kepada kepedulian seorang kader, seperti silaturahim, baik kepada alumni maupun sesama PMII ataupun organisasi ekstra lainnya, dengan silaturami ini juga sehingga seseorang kader bisa mengenal lebih banyak sahabat untuk bertukarpikiran (sharring) dalam setiap persoalan yang ada disekitarnya.

D. Penjenjangan Kaderisasi

Secara berurutan, baik pelatihan formal, pelatihan non formal (pengembangan) maupun pelatihan informal dan pelatihan Fasilitator adalah sebagai berikut:
1.      Masa Penerimaan Anggota Baru, disingkat MAPABA.
Mapaba merupakan forum pengkaderan formal tingkat pertama yang dilakukan oleh pengurus rayon atau komisariat. Disamping sebagai masa penerimaan anggota, forum ini juga sbagai wahana pengenalan PMII dan penanaman nilai (doktrinasi) dan idealisme sosial PMII.
Pada fase ini harus ditanamkan makna idealisme yang bermuatan relegius bagi mahasiswa dan urgensi perjuangan untuk idealisme itu melalui PMII baik pada struktur formalnya sebagai organisasi maupun pada aspek substansinya sebagai komunitas gerakan mahasisiwa yang berkatar kultur Islam. Karena itu terget yang harus dicapai pada fase ini adalah tertanamnya keyakinan pada setiap individu anggota bahwa PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang paling tepat untuk mengembangkan diri dan memperjuangkan idealisme tersebut. Dari tahap ini output yang diharapkan adalah anggota yang mu’taqid.
Setelah Mapaba seorang kader pergerakan juga harus mengikuti pelatihan non formal pengembangan dan informa, yang juga merupakan syarat mutlak bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKD.

2.       Pelatihan Kader Dasar, disingkat PKD
Pelatihan Kader Dasar merupakan perkaderan formal tingkat kedua. Pada fase ini persoalan doktrinasi nilai-nilai dan misi PMII, penanaman loyalitas dan militansi gerakan, diharapkan sudah tuntas. Target yang harus dicapai pada fase ini adalah terwujudnya kader-kader militan, mempunyai komitmen moral dan dasar-dasar kemampuan praksis untuk melakukan Amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam PKD, kepada peserta mulai diperkenalkan berbagai berbagai model gerakan, prinsip prinsip dasar Analisa Sosial, dasar-dasar Advokasi dengan segala macam bentuknya  serta dasar-dasar managerial pengelolaan aktifitas dan gerakan. Output dari PKD adalah seorang kader pergerakan yang siap terjun di tengah masyarakat.
Selain follow up, setelah PKD seorang kader pergerakan juga harus mengikuti berbagai pelatihan formal pengembangan atau informal, yang juga merupakan syarat mutlak bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKL.
3.             Pelatihan Kader Lanjut, disingkat PKL
      Tahapan ini merupakan fase spesifikasi untuk mengarahkan kader kepada kemampuan pegelolaan organisasi secara professional. Dengan pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai dan misi organisasi yang telah ditanamkan pada PKD, maka dalam PKL ini kader ditempa dan dikembangkan seluruh potensi dirinya untuk menjadi seorang pemimpin yang menyadari sepenuhnya amanah kekhalifahanya dengan didukung oleh kematangan leadership dan kemampuan managerial. Output dari pelatihan tahap ini adalah “Leader of Movement and Institusion”.
Follow up PKL dilakukan melalui (dalam bentuk) pengelolaan aksi sosial transformatif. Hal ini dimaksudkan untuk peningkatan kualitas kepemimpinan kader pergerakan, baik dalam rangka pengembangan organisasi maupun dalam memecahkan persoalan-persoalan strategis yang berkaitan dengan dinamika internal organisasi dan dinamika eksternal yang terjadi di masyarakat.

E. Kurikulum Kaderisasi PMII

1.      KADERISASI FORMAL MAPABA, PKD dan PKL

Seseorang bisa di katakan sebagai anggota atau kader PMII ketika mengikuti proses pendidikan atau pengkaderan secara formal mulai MAPABA, PKD dan PKL. Berikut ini pedoman atau acuan untuk melaksanakan  proses kaderisasi secara formal :

 

MASA PENERIMAAN ANGGOTA BARU

(MAPABA)


a.      Pengertian
Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) adalah masa penerimaan anggota baru dan merupakan orientasi/pengenalan awal yang juga merupakan forum pengkaderan formal tingkat pertama.

b.      Model Pendekatan
Dalam PMII MAPABA merupakan wahana awal pengenalan PMII dan penanaman nilai-nilai (doktrinasi) yang ada di PMII dan juga membangun idealitas sosial. Pada fase ini harus ditanamkan makna idealisme yang bermuatan relegius bagi mahasiswa dan urgensi perjuangan untuk idealisme itu melalui PMII baik pada struktur formalnya sebagai organisasi maupun pada aspek substansinya sebagai komunitas gerakan mahasisiwa yang berlatar kultur Islam.

c.       Tujuan dan Target
Tujuan dan target yang harus dicapai pada fase ini adalah
a.    Tertanamnya keyakinan pada setiap individu anggota bahwa PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang paling tepat untuk mengembangkan diri (potensi) dan PMII sebagai way of life.
b.   Tertanamnya keyakinan pada setiap individu anggota bahwa PMII adalah wahanan untuk memperjuangkan idealisme, dalam konteks kemahasiswaan, kebangsaan, maupun kemasyarakatan.
c.    Memiliki keyakinan terhadap Ahlu Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) sebagai mazhab yang tepat untuk mengembangkan diri, memperjuangkan idealisme, dan untuk memahami dan mendalami Islam.
d.   Dari tahap ini output yang diharapkan adalah anggota yang mu’taqid dan militan menjadi kader bukan sekedar masuk untuk mejadi anggota.

d.      Kurikulum

Sesi I  

BINA SUASANA
Tujuan           
Peserta, panitia dan fasilitator mengetahui semua komponen yang terlibat dalam pelatihan, sehingga dalam proses MAPABA dapat terbina suasana pelatihan yang penuh dengan keakraban di antara semua komponen tersebut. Disepakatinya beberapa aturan main selama pelatihan berlangsung, baik kewajiban, hak-hak dan kekhawatiran-kekhawatiran peserta yang akan terjadi selama pelatihan berlangsung.
Pokok Bahasan          : 1.  Perkenalan
2.   Penyusunan Harapan dan kekhawatiran dari Peserta, Panitia dan Fasilitator.
3.   Citra diri peserta
4.   Kontrak belajar (Aturan Main dan atau Tata Tertib MAPABA)
Bahan-Bahan             : - Kertas kecil secukupnya
  - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
Metode                        : - Permainan
  - Brain storming
Waktu                         : 120 Menit

Proses Kegiatan        

1.    Panitia/Fasilitator membuka sessi dengan memperkenalkan identitas dirinya, dan meminta tiap-tiap peserta untuk memperkenalkan identitas dan pengalaman dirinya.
2.    Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk mengungkapkan harapan-harapannya selama mengikuti seluruh rangkaian atau proses pelatihan ini serta kekhawatiran-kekhawatiran yang ditakutkan akan terjadi.      
3.    Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang diperlukan/ dilakukan demi tertib, lancar dan suksesnya proses pelatihan ini;
4.    Fasilitator mendorong terjadinya kesepakatan antara sesama peserta, peserta dan panitia tentang perlunya tata-tertib pelatihan;
5.    Seluruh peserta menyepakati tentang 'tata-tertib pelatihan'.
           
Sesi II
AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH SEBAGAI
AJARAN YANG MODERAT DALAM ISLAM
Tujuan
Peserta mampu memahami bahwa, Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) berusaha menggali nilai-nilai ideal-moral yang lahir dari pengalaman keberagama’an dan keberpihakan insan warga pergerakan dalam bentuk nilai-nilai yang ada dalam aswaja, sebagai ajaran islam yang moderat. Hal ini dibutuhkan untuk memberi pemahaman, spirit pergerakan dan sekaligus memberikan legitimasi dan memperjelas terhadap apa saja yang yang harus dilakukan sebagai warga pergerakan dan untuk mencapai cita-cita perjuangan dan visi-misi sesuai dengan maksud di dirikannya organisasi ini. Sehingga para kader PMII dengan aswaja ini, akan senantiasa memiliki semangat keagamaan (iman) yang tinggi.
            Pokok Bahasan         : 1. Pengertian Aswaja
2.    Sejarah Singkat Aswaja :
-       Kondisi Keagamaan Masyarakat
-       Konsep Dasar Aswaja (teologi)
-       Perkembangan Pemikiran Aswaja
Bahan-Bahan                        : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                      - Makalah / materi ceramah
Metode                       :   - Ceramah/presentasi
- Dialog (tanya jawab)
-  Diskusi Kelompok
-  Diskusi Panel
Waktu                                    : 120 Menit

Proses Kegiatan

1.    Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi aswaja ini;
2.    Moderator memperkenalkan narasumber/fasilitator secara rinci.
3.    Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
4.    Dialog (tanya jawab) dan/atau klarifikasi;

     

Sesi III
NILAI DASAR PERGERAKAN
      Tujuan
Peserta mampu memahami bahwa, Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) berusaha menggali nilai-nilai ideal-moral yang lahir dari pengalaman dan keberpihakan insan warga pergerakan dalam bentuk rumusan-rumusan yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII. Hal ini dibutuhkan untuk memberi kerangka, arti, motivasi pergerakan dan sekaligus memberikan legitimasi dan memperjelas terhadap apa saja yang akan dan harus dilakukan untuk mencapai cita-cita perjuangan dan visi-misi sesuai dengan maksud di dirikannya organisasi ini. Sehingga para kader PMII dgn NDP ini, akan senantiasa memiliki kepedulian sosial yang tinggi (faqih fi mashalih al-khalqi fi al-dunya/ paham dan peka terhadap kemaslahatan makhluk di dunia)
Pokok Bahasan         : 1.   Filosofi NDP
2.      Fungsi dan kedudukan NDP dalam PMII
3.      Rumusan NDP PMII
4.      Internalisasi dan implementasi NDP dalam kehidupan keseharian dan kehidupan berorganisasi
Bahan-Bahan                        : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                      - Makalah / materi ceramah
Metode                       : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                      - Diskusi Kelompok
Waktu                                    : 120 Menit
Proses Kegiatan
1.    Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.    Moderator memperkenalkan narasumber/fasilitator secara rinci
3.    Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
4.    Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi IV
KE-ORGANISASIAN PMII
Tujuan          
Peserta mampu memahami makna filosofis simbul profil dan gambaran Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII), sebagai organisasi pergerakan mahasiswa dalam bingkai konstitusi dan aturan-aturan ke-organisasian yang ada, serta dalam bingkai managerial ke-organisasian.
Pokok Bahasan          : 1. Perangkat konstitusi dan aturan-aturan organisasi yang ada di PMII
                                       2. Fungsi dan arti konstitusi dan aturan-aturan organisasi yang ada di PMII
                                       3. Manajemen ke-organisasian
Bahan-Bahan                        : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                      - Makalah / materi ceramah
Metode                       : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
-  Diskusi Kelompok
-  Study Kasus
      Waktu                                    : 120 Menit                                        
Proses Kegiatan
1.    Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.    Moderator memperkenalkan narasumber/fasilitator secara rinci
3.    Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
4.    Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi V
PMII DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Tujuan
Peserta memahami dan mengetahui gambaran secara filisofis tentang berdirinya Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII), peranan PMII dalam bangsa ini. Hal ini dibutuhkan untuk mengahui keberadaan dirinya sebagai kelompok sosial dan insan pergerakan dan akademis, memahami peran dan posisinya di Indonesia serta peran PMII di dalamnya, sehingga mampu membangun alur berpikir peserta dengan menemukan posisi setrategis mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pokok Bahasan          : 1. Posisi strategis mahasiswa dan tanggung jawab sosialnya.
                                      2. Sejaran, peran gerakan mahasiswa dan PMII di Indonesia, baik dalam perspektif ke-Indonesiaan maupun global
                                      3. Manajemen gerakan moral dan gerakan politik
Bahan-Bahan                        : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                      - Makalah / materi ceramah
      Metode                       : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                      - Diskusi Kelompok
  - Study Kasus
Waktu                                    : 120 Menit
Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;
4.  Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi VI
KE-ISLAMAN
Tujuan           
Peserta memahami prinsip dan nilai-nilai universalitas Islam (Iman Islam dan Ihsan), memahami perkembangan Islam di Indonesia dalam konteks kesejarahan, perananya di Indonesia serta Islam serta fungsi kehadiran Islam dalam konteks transformasi sosial, sehingga peserta mampu menemukan pijakan teologinya untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai universalitas Islam.
Pokok Bahasan                     :  1. Sejarah dan latar belakang sosial, politik, ekonomi dari perkembangan Islam di Indonesia
                                                  2. Prinsip dan nilai-nilai universalitas Islam
  3. Islam keadilan dan transformasi sosial
Bahan-Bahan                                    : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                                  - Makalah / materi ceramah
Metode                                   : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                                  - Diskusi Kelompok
Waktu                                                : 240 Menit
Proses Kegiatan
1.    Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.    Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;
4.  Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi VIII
KE-INDONESIAAN
                        Tujuan          
Peserta memahami sejarah Indonesia dalam perspektif sejarah masyarakat dan sejarah ke-bangsaan-nya baik dalam fase feodal-primodial-modern (dari zaman kerajaan – sekarang) serta peranan internasional dalam kebangsaan Indonesia, sehingga mampu memahami logika dan nalar masyarakat dan bangsa sebagai upaya untuk membaca masa depan Indonesia.
Pokok Bahasan                : 1. Sejarah Masyarakat di Indonesia
2. Peranaan internasional dalam ke-bangsaan Indonesia
3. Peran dan posisi Indonesia dalam konteks global
Bahan-Bahan                   : - Spidol/kapur tulis
                                            - Papan tulis/kertas plano
                                            - Makalah / materi ceramah
Metode                              : - Ceramah/presentasi
-    Dialog (tanya jawab)
-    Diskusi Kelompok
-    Study Kasus
Waktu                                         : 150 Menit
Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;
4.  Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi IX
MATERI MUATAN LOKAL
Tujuan                       
            Peserta memahami dinamika dan dialektika yang terjadi di masing-masing daerahnya.
Pokok Bahasan                : 1. Antropologi kampus (geografi, psykografi, demografi dan sosiologis)
2. Sejarah dan dinamika PMII lokal
3. Materi tentang disiplin ilmu masing-masing
Waktu                                : 360 Menit
Bahan-Bahan                   : - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                             - Makalah / materi ceramah
Metode                              : - Ceramah/presentasi
-    Dialog (tanya jawab)
-    Diskusi Kelompok
-    Stydy kasus
Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;
4.  Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi IX
GENERAL REVIEW
Tujuan
            Peserta memahami keterpaduan antara keseluruhan materi yang telah disampaikan, dapat mereview materi-materi tersebut, dari materi yang telah disampaikan peserta bisa memilih materi mana yang belum maksimal dan dirasa perlu untuk ditindaklanjuti (foluw up), sehingga peserta mendapatkan pijakan dan keyakinannya untuk memantapkan pilihannya menjadi kader PMII.
Pokok Bahasan                : 1.  Substansi dari materi-materi yang telah disampaikan
2. Unsur-unsur kesinambungan antar materi yang telah disampaikan
3. Urgensi PMII sebagai wahana yang tepat untuk pengembangan diri dan memperjuangkan Ke-Islaman, Ke-Indonesiaan dan Ke-masyarakatan.
     Bahan-Bahan                  : - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                             - Makalah / materi ceramah
     Metode                             :  -  Review keseluruhan materi
-       Dialog (tanya jawab)
-       Diskusi Kelompok
-       Brain strorming
Waktu                                        :  120 Menit
Proses Kegiatan
1.  Panitia/Fasilitator membuka sessi dengan meminta tiap-tiap peserta untuk melakukan review materi-materi dan mengevaluasi jalannya/proses pelatihan;
2.  Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyatakan apakah harapan-harapannya terhadap pelatihan (yang dikemukakan pada saat bina suasana tercapai;
           
Sesi X
EVALUASI
Tujuan           
Peserta memahami PMII mengetahui tingkat keberhasilan dari pelatihan, untuk mengukur apakah target, harapan dan kekhawatiran terpenuhi dan terjadi selama proses MAPABA berlangsung. Hal ini akan berguna sebagai masukan dan pertimbangan dalam pelaksanaan pelatihan-pelatihan selanjutnya.
Pokok Bahasan         : 1. Target, Harapan dan Kekhawatiran terjadi selama proses MAPABA berlangsung.
2. Seluruhan komponen yang terlibat dalam MAPABA, baik metodologi pelatihan, peserta, panitia, fasilitator, pembicara, tempat, serta fasilitas dan unsur-unsur lain yang terlibat dalam pelatihan.
Bahan-Bahan                        :           - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
Metode                       :           - Dialog (tanya jawab)
                                                - Brain strorming
Waktu                                    :           90 Menit
            Proses Kegiatan
1. Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang merugikan baik peserta maupun panitia;
2.  Fasilitator mendorong agar kesalahan yang terjadi tidak di ulangi kemBali ketika mengadakan pelatihan.;
3. Seluruh panitia dan peserta mengetahuI kesalahan bersam-sama selama pelatihan berlangsung.

Sesi XII
RENCANA TINDAK LANJUT
Tujuan                       
Peserta memahami PMII sebagai komunitas untuk kebersamaan dan gerakan sehingga muncul sense bersama untuk melaksanakan tugas dan kewajiban pasca MAPABA, sehingga secara definitif bisa di sebut sebagai kader pergerakan.
Pokok Bahasan                  :  1. Identifikasi potensi, bakat-minat dan kecenderungan kader
2. Bentuk-bentuk follow up
3. Kesepakatan managerial pengelolaan follow up
Bahan-Bahan                     :  - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
Metode                                :  - Dialog (tanya jawab)
                                                - Brain strorming
Waktu                                 : 120 Menit
Proses Kegiatan
1.    Fasilitator mengambarkan beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai kegiatan tindak lanjut dan meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang diperlukan/dilakukan untuk menindak-lanjuti pelatihan ini;
2.    Fasilitator mendorong agar terjadi kesepakatan antar peserta tentang perlunya membuat agenda atau kegiatan bersama sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini;
3.    Seluruh peserta menyepakati agenda bersama tindak lanjut pelatihan.

Sesi XI
PENUTUPAN
Penutupan harus dilaksanakan untuk membangun kedisiplinan bersama di PMII karena penutupan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam metodologi pelatihan.

***

PELATIHAN KADER DASAR

(PKD)

1.    Pengertian
Pelatihan Kader Dasar (PKD) merupakan perkaderan formal basic tingkat kedua. Pada fase ini, persoalan doktrinasi nilai-nilai dan misi PMII, penanaman loyalitas dan militansi gerakan dalam mematrealkan di lapangan sehingga diharapkan secara teoritis sudah tuntas.
2.    Model Pendekatan
Karena persoalan doktrinasi nilai, ideologi visi-misi PMII yang sudah tuntas, sehingga pendekatan doktrinasi sudah tidak diperlukan dalam pelatihan formal basic kedua ini. Tetapi pendekatan yang harus di pakai adalah dengan pendekatan partisipatoris aktif, sehingga peranan semua unsur yang terlibat dalam pelatihan sangat mempengaruhi terjadinya dinamika dan dialektika selama proses pelatihan berjalan.
3.    Tujuan Dan Target
Secara garis besar PKD ini bertujuan untuk membekali kader dengan kemampuan – kemampuan praksis dengan pijakan teori dan pengetahuan Karena itu tujuan dan target yang harus dicapai pada fase ini adalah
a.    Tertanamnya keyakinan dan komitmen terhadap dunia gerakan
b.    Penguasaan terhadap prinsip-prinsip analisa sosial
c.    Penguasaan terhadap teori-teori sosial sebagai pijakan pengetahuan untuk membaca realitas masyarakat dan negara dalam konteks lokal-nasional dan global
d.   Penguasaan materi advokasi dan strategi-strateginya
4.    Kurikulum

Sesi I
BINA SUASANA
Tujuan
Peserta, panitia dan fasilitator mengetahui semua komponen yang terlibat dalam pelatihan, sehingga dapat mengenali dirinya sendiri dan sahabat yang ikut dalam pelatihan, sehingga dapat terbina suasana pelatihan yang penuh dengan keakraban dan kebersamaan di antara semua komponen tersebut. Disepakatinya beberapa aturan main selama pelatihan berlangsung, baik kewajiban, hak dan kekhawatiran-kekhawatiran yang akan terjadi selama pelatihan berlangsung.
Pokok Bahasan                : 1. Perkenalan
2. Penyusunan Harapan dan Kekhawatiran dari Peserta, Panitia dan Fasilitator
3. Citra diri peserta
4. Kontrak belajar   (Aturan Main dan atau Tata Tertib PKD)
Bahan-Bahan                   : - Kertas kecil secukupnya
- Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
Metode                              : - Permainan/role palying
- Brain storming
Waktu                               : 120 Menit
Proses Kegiatan
1.    Panitia/Fasilitator membuka sessi dengan memperkenalkan identitas dirinya, dan meminta tiap-tiap peserta untuk memperkenalkan identitas dan pengalaman dirinya yang dibantu dengan role playing.    
2.     Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk mengungkapkan harapan-harapannya selama mengikuti seluruh rangkaian atau proses pelatihan ini serta kekhawatiran-kekhawatiran yang ditakutkan akan terjadi.      
3.    Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang diperlukan/ dilakukan demi tertib, lancar dan suksesnya proses pelatihan ini;
4.    Fasilitator mendorong terjadinya kesepakatan antar peserta tentang perlunya tata-tertib pelatihan;
5.    Seluruh peserta menyepakati tentang 'tata-tertib pelatihan'.

Sesi II 
ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL FIKR
Tujuan                                
Peserta mampu memahami dan merekonstruksi, sejarah perkembangan pemikiran-pemikiran Islam sejak zaman Nabi hingga sekarang, memahami proses kemunculan pemikiran-pemikiran Islam sebagai sebuah pengetahuan (teori) dan konstruksi global dan memahami aswaja sebagai metodologi berfikir dalam upaya memahami ajaran-ajaran Islam dan landasan gerakan sebagai upaya untuk menemukan posisi gerakan PMII dalam konteks lokal-nasional dan global.
Pokok Bahasan                   : 1. Pengaruh sosio-historis-kultural bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain terhadap perkembangan pemikiran Islam
                                                    2. Latar belakang ekonomi-sosial-politik pemerintahan Islam zaman awal terhadap proses pelembagaan madzab dalam Islam
           3. Aswaja sebagai manhaj al fikr
Bahan-Bahan                      : - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah
Metode                                : - Ceramah/presentasi
- Dialog (tanya jawab)
                                    - Diskusi Kelompok
      Waktu                                 :  240 Menit
Proses Kegiatan
1.      Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.      Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.      Dialog dan/atau klarifikasi;
4.      Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi III
ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
      Tujuan                                
Peserta memahami latar belakang kemunculan teologi pembebasan dalam perspektif amar ma`ruf nahi mungkar, memiliki sense-gerakan terhadap kenyataan empiris dalam konteks lokal-nasional maupun global dan menginternalisasi dan mengimplemantasikan prinsip dan nilai-nilai egalitarianisme dan universalitas Islam

Pokok Bahasan                    : 1. Latar belakang kemunculan teologi pembebasan dan perspektifnya terhadap perubahan
2. Hakekat amar ma`ruf nahi mungkar dalam konteks perubahan sosial
3. Nilai-nilai egalitarianisme sebagai nilai tertinggi dalam perubahan sosial
Bahan-Bahan                         : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                                  - Makalah / materi ceramah
Metode                                    : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                                 - Diskusi Kelompok
 - Study Kasus
Waktu                                                : 120 Menit
           
Sesi IV
PARADIGMA PMII
      Tujuan                                   
Peserta memahami paradigma dan pilihan paradigma gerakan PMII dan menjadikanya sebagai metodologi berpikir dan gerakan serta dalam mengimplementasikannya dalam perilaku, sikap dan kehidupan pribadi, berorganisasi dan berdialektika dalam pergerakan.
Pokok Bahasan                       :1. Membaca Realitas gerakan dan ke-Indonesiaan sebagai landasan epistimologi paradigma gerakan
2.  Filosofi paradigma PMII
3.  Rumusan paradigma sebagai setrategi gerakan
4. Internalisasi dan implementasi paradigma gerakan dalam kehidupan pribadi dan berorganisasi
Bahan-Bahan                         : - Spidol/kapur tulis
 - Papan tulis/kertas plano
                                                 - Makalah / materi ceramah
Metode                                    : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                                  - Diskusi Kelompok
  - Study Kasus
Waktu                                                : 240 Menit
Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;
4.  Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi V
 ANALISA SOSIAL
      Tujuan
Peserta memahami bahwa realitas masyarakat sebagai landasan analisa dalam perspektif lokal-nasional dan global, sehingga peserta bisa memahami prinsip-prinsip dan model analisa untuk menentukan strategi dan posisi PMII sebagai organisasi pergerakan
Pokok Bahasan                : 1. Realitas masyarakat
2. Prinsip dan model-model nalisa sosial
3. Fungsi analisa sosial untuk menentukan posisi dan strategi gerakan
4. Perangkat-perangkat analisa sosial
Bahan-Bahan                   :- Spidol/kapur tulis
 - Papan tulis/kertas plano
                                     - Makalah / materi ceramah
Metode                              : - Ceramah/presentasi
- Dialog (tanya jawab)
                                    - Diskusi Kelompok
- Role playing
Waktu                               : 240 Menit
      Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;
4.  Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi VI
STUDY ADVOKASI
      Tujuan
Peserta memahami bahwa teori dan tehnik-tehnik advokasi, bentuk dan macam-macam advokasi dan setrategi advokasi
Pokok Bahasan                   :  1. Filosofi dan urgensi advokasi
2. Macam dan bentuk Advokasi
3. Model-model advokasi
4. Advokasi sebagai setrategi
      Bahan-Bahan                     : - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah
      Metode                                : - Ceramah/presentasi
- Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-   Study kasus
Waktu                                 : 150 Menit
Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi VII
 ANALISA WACANA
      Tujuan
Peserta memahami bahwa, alur dan nalar dari setiap kemunculan wacana, sehingga mampu memahami tekhnik membaca wacana dan memahami ada apa di balik wacana-wacana tersebut
Pokok Bahasan                     : 1. Teknik membaca wacana
  2. Wacana sebagai bagian dari sub sistem pengetahuan dunia
ht  - Papan tulis/kertas plano
                                                  - Makalah / materi ceramah
 3. Wacana sebagai ideologi
Bahan-Bahan                         : - Spidol/kapur tulis
Metode                             : - Ceramah/presentasi
   - Dialog (tanya jawab)
                                                   - Diskusi Kelompok
-   Study Kasus

Waktu                                                : 150 Menit
Proses Kegiatan
1. Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2. Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3. Dialog dan/atau klarifikasi;
           

Sesi VIII
POLA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PMII
Tujuan
Peserta mampu memahami makna strategi sebagai cara yang harus dilakukan untuk memobilisasi kekuatan (forces mobilization) secara efektif. Strategi mengarah pada  upaya untuk memenangkan suatu pertarungan (kontestasi). Sehingga peserta memahami nilai-nilai  perjuangan PMII untuk membangun masyarakat yang memiliki kekuatan dan jejaring untuk merancang perubahan ke arah yang lebih baik sebagai langkah untuk memberikan penguatan kepada kader. Dan memahami pola dan setrategi ke depan PMII sebagai upaya untuk menentukan posisi gerakan ke depan.
Pokok Bahasan                    :1. Filosofi dan urgensi dari pola dan setrategi pengembangan PMII
2.   Identifikasi peluang dan potensi PMII
3. Membaca alternatif peran gerakan PMII untuk menentukan posisinya masa kini dan masa depan
Bahan-Bahan                                    : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                                  - Makalah / materi ceramah
Metode                                   : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                                 - Diskusi Kelompok
 - Study kasus
Waktu                                                :  150 Menit
Proses Kegiatan
1.    Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.    Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.    Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi IX
 REKAYASA SOSIAL
Tujuan
Peserta memiliki pemahaman holistik dalam proses transformasi sosial, prinsip-prinsip dasar dengan berbagai alternatif rekayasa sosial
Pokok Bahasan                   : 1. Proses transformasi sosial
2. Prinsip dasar rekayasa sosial
3. Pendekatan-pendakatan dalam rekayasa sosial
Bahan-Bahan                      : - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah
Metode                                 :  - Ceramah/presentasi
- Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
- Study kasus
Waktu                                 : 90 Menit
Proses Kegiatan
1.  Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.  Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.  Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi X
PENGELOLAAN OPINI DAN GERAKAN MASSA
Tujuan                       
            Peserta memiliki kemampuan untuk membaca dan membuat isue-isue setrategis, pentingnya komunikasi massa, prinsip-prinsip serta perangkat gerakan massa dan memiliki kemampuan untuk merangcang gerakan massa, mengelola opini, melakukan gerakan massa dengan pendekatan setrategis
Pokok Bahasan                      : 1. Manajemen (pengelolaan informasi dan opini) isue
  2. Isue sebagai setrategi kampanye untuk membangun opini
  3. Prinsip-prinsip gerakan massa
  4. Analisa situasi dan pembacaan medan
  5. Setrategi dan taktik menciptakan, mengelola dan memimpin gerakan massa
Bahan-Bahan                                    : - Spidol/kapur tulis
  - Papan tulis/kertas plano
                                                  - Makalah / materi ceramah
Metode                                   : - Ceramah/presentasi
  - Dialog (tanya jawab)
                                                 - Diskusi Kelompok
-       Study kasus
- Role playing
Waktu                                                : 240 Menit
Proses Kegiatan
1.    Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.    Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.    Dialog dan/atau klarifikasi;
4.    Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi XI
PENGORGANISASIAN KAMPUS
Tujuan
Peserta memahami proses, prinsip-prinsip dan unsur utama dalam pengorganisasian di kampus dan memetakan kelompok-kelompok setrategis di kampus, sehingga memiliki kemampuan analisa dengan cepat dan tepat dalam merespon isue-isue dan dinamika di kampus dan potensi atau peluang-peluang di kampus sebagi upaya untuk menguasai kampus
Bahasan                      

RANCANGAN KADERISASI BIDANG EKSTERNAL;
Tentang;
STRATEGI GERAKAN KEMANDIRIAN EKONOMI DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN SERANG
A. PENDAHULUAN
Bidang ini secara structural mengemban amanat penuh atas segala macam sikap dan gerakan PMII dalam merespon isu atau masalah-masalah public, baik dalam scope local, nasional, maupun internasional. Dalam perspektif kaderisasi bidang eksternal merupakan estafet terakhir setelah proses pengkaderan di bidang I (Internal) dan Bidang III (Perempuan) karena bagaimana pun juga kekritisan berfikir dan bersikap kader ini bergantung pada kematangan proses yang ada di kedua bidang tersebut.
Sehingga untuk menajamkan kekritisan berfikir dan bersikap kader dalam menganalisa isu-isu yang ada, bidang II seyogyanya melakukan komunikasi dan koordinasi dengan intens dengan bidang internal dan perempuan.
Dalam fokus gerakan eksternal, bidang ekternal ditingkatan cabang Kabupaten serang seharusnya lebih bisa memprioritaskan isu-isu lokal yang lebih mendesak untuk disikapi daripada isu-isu nasional maupun internasional, namun hal ini bukan berarti bidang eksternal apatis dengan isu selain isu local. Karena idealnya setiap tingkatan structural lembaga di PMII harus mampu memberi kontribusi yang kongkrit di daerah atau scope masing-masing.
Motto dari bidang II adalah “real power doesn,t hit hard, but straight to the point” kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras, tetapi tepat sasaran.
A.     PRIORITAS DAN JENIS ISU
Beberapa isu yang menuntut disikapi secara kritis, diantaranya:
  1. KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme)
  2. HAM (Hak Asasi Manusia)
  3. Gender
  4. Pluralisme
  5. Pendidikan dan Sosial-Budaya
  6. Kesehatan
  7. Lingkungan Hidup
  8. Ekonomi
  9. Politik
  10. Teknologi Informasi
B.     ALTERNATIF AKSI
Dalam merespon isu yang ada, PMII harus benar-benar bisa memilah dan memilih alternative aksi yang lebih signifikan dan relevan sesuai dengan isu yang dihadapi, adapun alternative aksi PMII yang bisa digunakan diantaranya :
  1. Aksi turun jalan (Demonstrasi)
Yang dimaksud dengan aksi ini adalah PMII melakukan protes secara terbuka atas segala kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat atau atas segala isu-isu lainnya yang terdapat pada poin B. Aksi ini biasanya diiringi dengan melakukan long march dan orasi bebas serta membawa atribut aksi seperti bendera, spanduk yang bertuliskan isu yang disikapi, selebaran dan biasanya melibatkan peran media.
  1. Aksi Diam
Yang dimaksud dengan aksi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan aksi turun jalan, namun bedanya di aksi ini para demonstran tidak melakukan orasi sama sekali dan untuk menyalurkan pendapat/gagsasan biasanya dilakukan dengan menyebarkan selebaran kepada masyarakat atau dengan membuat tulisan dalam spanduk besar.
dan untuk menandai bahwa aksi ini adalah aksi diam para demonstran bisa menyimbolkan dengan menutup mulut dengan lakban.
  1. Aksi melalui media
Yang dimaksud dengan aksi ini adalah dengan melakukan pertama, jumpa pers dengan beberapa media untuk mengklrifikasikan isu-isu yang beredar dimasyarakat, Kedua, dengan mengirimkan tulisan (opini) kepada media cetak guna mempublikasikan ide tau gagasan terhadap suatu hal, ketiga, mengikut sertakan (mengundang) media dalam setiap aksi yang tujuannya agar tiap aksi yang digagas PMII bisa diliput, dimuat dan disebarkan ke ranah public.
  1. Aksi teaterikal
Yang dimaksud dengan aksi ini adalah kader melakukan sebuah teaterikal atau adegan untuk menggambarkan kondisi tertentu yang relevan dengan isu-isu yang disikapi. Aksi ini bisa diiringi dengan music dan pembacaan puisi.
  1. Aksi Hearing dan Audiensi
Yang dimaksud dengan aksi ini adalah kader PMII melakukan klarifikasi dan jajah pendapat dengan pihak-pihak terkait yang memiliki relevansi dan kolerasi dengan isu yang disikapi.
  1. Aksi Simpatik
Yang dimaksud dengan aksi ini adalah dengan melakukan seruan dan member pemahaman kepada masyarakat atas suatu hal yang menjadi isu bersama, seperti isu lingkungan (pemanasan global) bisa disikapi dengan melakukan penanaman pohon dengan melibatkan segenap stakeholder yang ada.
C.     PERANGKAT PRA-PASCA AKSI
Sebelum menyelenggarakan aksi hendaknya kader PMII terlebih dahulu melakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Membentuk tim aksi (melibatkan kader ditiap tingkat –PC, PK dan PR-) diharapkan tim ini bisa bekerja sesuai dengan job masing-masing yang ada pada menejemen aksi.
  2. Melakukan pembacaan isu secara kritis (melalui FGD 2 hingga 3 kali) dan menentukan grand issue  serta isu-isu varian lainnya
  3. Mengumpulkan data-data penting yang bisa mempertajam analisis
  4. Menyiapkan peralatan-peralatan dan kebutuhan aksi
  5. Menentukan goal dari aksi yang dilakukan
  6. Melakukan koordinasi (perizinan) dengan pihak kepolisian setempat
  7. Melakukan evaluasi pasca aksi yang digagas.
C.     FORMAT-FORMAT GERAKAN PMII
1.       Format Organisasi kader gerakan
Ini adalah format minimalis yang diproyeksikan untuk jangka panjang, tidak sebatas saat menjadi mahasiswa. Tugas format ini adalah mencetak atau mengkader sebanyak-banyaknya kader mahasiswa yang mampu bergerak dalam posisi sebagai apapun atau dalam displin ilmu manapun. Tugas ini dapat dikatakan berhasil jika setiap kader PMII minimal memiliki kualifikasi seorang kader basis. Tugas format ini adalah terus-menerus melakukan kaderisasi.
2.       Format Gerakan Sosial Transformatif
Format ini memiliki spectrum yang luas, mulai dari program live in, pendampingan, masyarakat binaan, hingga pendidikan kewarganegaraan. Format ini digarap oleh dua komunitas yakni agamawan muda liberatif dan pekerja social transformative.
Gerakan social transformative memandang bahwa perubahan memilliki beberapa variable yang sama-sama pentingnya. Sehingga persoalan-persoalan pendidikan, kesadarn, kesetaraan gender, gerakan lingkungan dipandang sebagai hal-hal yang sama pentingnya dan saling terkait. Karena itu karakter gerakan ini berorientasi kepada penguatan masyarakat, kembali pada masyarakat dengan pola perubahan gradualis progresif (bertahap maju)
3.       Format Gerakan  Intelektual dan Pers
Format ini adalah gerakan yang menjadi tempat kumpul kader PMII yang mabuk wacana, dan gemar berteori. Format ini adalah bagian dari sayap konseptor yang diharapkan mampu menawarkan konsep-konsep alternative sesuai dengan kebutuhan social yang ada. Disinilah digodog, dibahas dan dirancang berbagai konsep, teori maupun persoalan-persoalan social kontemporer, disini juga nalar gerakan terus dikembangkan dan didialogkan dengan realitas social.
Selain itu sayap ini juga harus sinergis dengan gerakan media atau pers yang memungkinkan dilakukannnya diseminasi gagasan kepada public sehingga media atau pers menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar kembali. Gerakan ini dikatan berhasil jika mampu mengambil atau memerankan kepemimpinan dalam dataran gagasan atau ide.

4.       Format Gerakan Ekstra-parlementer
Indonesia sebagai dunia ketiga, gerakan mahasiswa merupakan suatu kekuatan social yang signifikan. Desakan gerakan mahasiswa melaluui aksi masa dalam sejarah social bangsa terbukti cukup kontributif bagi perubahan social.
Gerakan mahasiswa merupakan kelompk strategis yang relative sulit terjebak dalam patronase politik sebagamana kelompok strategis lainnya. Namun posisi startegis menjadi tidak bermakna jika tidak ditransformasikan menjadi geraakan massa sebagai instrument advokasi kebijakan public, dengan konsep, kekuatan dan waktu yang tepat.
5.       Format Gerakan Kebudayaan
Gerakan kebudayaan adalah gerakan yang menjadikan kebudayaan sebagai basis atau titik tolak pergerakan. Kebudayaan atau kesenian yang transormatif pada kenyataannya juga meruoakan medan perubahan social. Kombinasi gerakan kebudayaan dan gerakan politik menjadi sangat eksotis untuk dikolaborasi lebih lanjut. Kebudayaan disini dapat dimaknai dalam pengertiannya yang paling sempit sampai yang paling luas yaitu bagaimana merancang kebudayaan masa depan.
Wilayah ini sesungguhnya telah lama menjadi medan operasi kapitalisme global yang tidak mendapat perlawanan cukup memadai, padahal situasi kebudayaan selalu mengalammi modifikasi dan perubahan terus-menerus.
6.       Format Gerakan Prosionalis-populis
Format ini mencoba membuka ruang-ruang perlawanan secara lebih luas dengan mengakomodir pluralitas disiplin ilmu serta menjawab kecenderungan spesialisasi pendidikan. Dalam ranah pergerakan mahasiswa yang selalu terasosiasi dengan kata pergerkan selalu bermakna social atau setidaknya bias social humaniora, seolah-olah arus eksakta tidak memiliki track yang sama dengan gerakan social. Padahal perubahan dunia sekarang tidak mungkin dilepasan dari teknologi computer, informatika, komunikasi dan produksi.
Disinilah kebutuhan  untuk mengirganisisr mahasiswa dari berbagai disipilin ilmu yang ada yang kemudian membentuk komunitas sesuai dengan disiplinnya dengan bangunan ideologis yang kuat tanpa kehilangan profesionalisme dan kompetensi keilmuan
D.     IMPLEMENTASI KEMANDIRIAN EKONOMI CABANG
Untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan primer maupun sekunder yang ada dicabang, biasanya didapat dari sumbangan dana para alumni dan dana kepemudaan dari pemerintah setempat yang diproses melalui pengajuan proposal kegiatan. Hal ini pun terkadang tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan cabang secara maksismal, karena faktanya tidak semua proposal yang diajukan baik ke pemerintah maupun alumni mendapat disposisi pencairan dana.
Dengan kondisi tersebut maka kader PMII mau atau tidak mau harus sesegera mungkin menggagas dan mematangkan perihal konsep serta bentuk implementasi kemandirian ekonomi (keuangan) cabang.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi cabang antara lain:
1)       Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan keuntungan
2)       Menjalin kerja sama dengan stakeholder yang dapat memberikan kontribusi secara langsung terhadap perekonomian cabang
3)       Menjadi “Markus” (makelar khusus), dimaksudkan apabila ada kader atau pihak lain yang membutuhkan sesuatu kita dapat menyediakan dengan menjadi distributor dengan perjanjian berapa persen yang akan masuk untuk perekonomian cabang
E.      HUBUNGAN ANTARA PMII DENGAN ALUMNI DAN LEMBAGA LAIN
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia cabang Kabupaten serang sebagai suatu organisasi eksternal mahasiswa harus terus menjaga satatusnya sebagai organisasi dengan prioritas gerakan eksternal dan menjalin kemitraan dengan lembanga-lembaga atau pihak-pihak yang ada.
Bentuk kemitraannya pun harus digagas sedemikian rupa dengan tetap memprioritaskan kewibawaan dan independensi cabang sebagai lembaga tertinggi PMII ditingkatan Kabupaten/Kota. Kemitraan cabang dapat dikategorikan sebagai berikut :
1.       Kemitraan Cabang dengan Alumni.
2.       Kemitraan Cabang dengan Ormas dan OKP
3.       Kemitraan Cabang dengan Pemerintah




RANCANGAN KADERISASI BIDANG TIGA
Tentang;
STRATEGI PENGEMBANGAN KADERISASI GENDER, KEAGAMAAN DAN KEBUDAYAAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN SERANG

A.     PENDAHULUAN
Kader adalah tunas, generasi muda yang akan meneruskan perjuangan organisasi, kaderisasi adalah suatu upaya atau proses pendidikan jangka panjang yang membekali keterampilan, kepemimpinan, kemandirian, daya kreasi, patriotisme dan idealisme dalam menjalankan roda organisasi. Oganisasi adalah suatu wadah atau tempat untuk mengaktualisasikan diri dalam menimba ilmu pengetahuan dan pengalaman ilmiah untuk mencapai tujuan tertentu dengan dibatasi oleh koridor, nilai dan norma social serta Agama.
Strategi pengembangan kaderisasi bidang tiga Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten serang mencakup Gender, Keagamaan dan Kebudayaan yang akan dipandu menjadi suatu kaderisasi di PMII Kabupaten serang yang akan memperioritaskan kader putri berada dalam barisan terdepan.
Sistem kaderisasi yang diterapkan di PMII Cabang Kabupaten serang saat  ini menggunakan multi level strategi gerakan yaitu mengacu pada salah satu buku panduan yang disusun oleh PB PMII 2006, dimana semua kader diharapkan mengetahui posisi masing-masing baik komisariat atapun di rayon. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi ovel lapping program kerja. Jadi sasaranya jelas, materinya jelas sesuai dengan tingkatan dan karakter masing-masing fakultas dan individu.
PMII Cabang Kabupaten serang mempunya Lima Komisariat; pertama komisariat Darul ‘Ulum Undar yang mempunyai empat rayon; Rayon Wahid Hasyim FISIP-FH, Rayon FAI, Rayon Ekonomi dan Rayon Teknik. kedua, komisariat Hasyim Asy’ari IKAHA yang mempunya tiga rayon; Rayon Tarbiyah, Rayon Syari’ah dan Rayon Diploma IKAHA. ketiga, komisariat Wahab Hasbullah STAIBU yang masih belum mempunyai rayon. keempat, komisariat Pattimura STKIP yang mempunya dua rayon; Rayon Rochdel Ekonomi, Rayon Aufklarum Bahasa Ingris dan rayon persiapa sigmagatika Matematika. Kelima, komisariat Umar Tamim Unipdu yang memiliki empat rayon;  Rayon FAI, Rayon FBS , Rayon FIK dan Rayon Teknik (FIA-FT-FMIPA) seta satu komisariat persiapan; Ya’qub Husain STIT UW
Dari beberapa hasil penelitihan PMII cabang Kabupaten serang 2009-2010 mempresentasikan bahwa kade putri kurang lebih sekitar 65 % dan kader putra kurang lebih 35 %. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian untuk menguatkan basis kaderisasi dibidang tiga, terlebih kaderisasi kader putri yang berbasis keimuan eksak dan profesi seperti teknik (Unipdu-Undar), Administrasi (Unipdu), Ekonomi (Undar-STKIP), matematika (STKIP) ilmu kesehatan (Unipdu). Ini akan menjadi kekuatan besar apabila kader bisa membawa dan bisa menempatkan diri serta mampu melihat peluang gerakan masadepan
B.     FOCUS KADERISASI
Kaderisasi bidang tiga akan focus dalam peningkatan gerakan perempuan dan peningkatan sumberdaya dengan harapan kader putrid bias menemptkan diri danbersaing dengan kader-kader yang lain.
  1. Gender
·         Gerakan Permpuan
·         Kajian feminis dan gender
·         Pelatihan Perempuan
  1. Keagamaan
Dalam kajian keagamaan harus bisa memberi bekal pada kader PMII agar setelah di PMII kader siap berbaur dengan masyarakat. Kajian keagamaan secara tanggung jawab berada dalam naungan bidang tiga yang tidak hanya untuk kader putrid tetapi untuk kaderr PMII secara umum dengan harapan kader putrid mempunya peluang lebih dalam membagun gerakan ataupun peningkatan intelektual.

  1. Kebudayaan
Pembagian wilayah kajian harus sistematis, salah satu kajian kebudayaan dalam kaderisasi ini akan menjadi tanggung jawab bidang tiga agar kader putrid mempunyai peluang dalam mengembangkan keilmuanya melalui pendekata-pendekatan budaya. Kajian dalam hal ini tidak hanya difokuskan pada kader putrid tetapi semua kader yang dipimpin oleh kader putrid dalam naungan bidang tiga.
C.     GERAKAN PENGUATAN INSTITUSSI KADER PUTRI
  1. System Penguatan Institussi Kader Putri
Sistem penguatan kaderisasi putri dilakukan dengan  beberapa cara baik formal, informal dan non formal. Penguatan dalam hal ini dilakukan dimasing-masing intitusi mulai dari cabang, komisariat rayon dan lembaga-lembaga kajian semi otonom ataupun badan otono di institusi tertentu.
Diskusi, pelatihan yang digerakkan oleh bidang tiga PMII cabag Kabupaten serang akan menjadi perioritas dengan harapan Kabupaten serang yang kaya kader putri bisa mewarnai den terbedakan secara sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah digariskan dalam AD/ART PMII.
Bidang tiga hrus mampu mengayomi badan semi otonom yang ada di komisariat ataupu rayon di Kabupaten serang, seperti yang ada saat ini “SILET KomisariatUmar Tamim, Ratu Sima Komisariat Patimua” dan forum lainya yang belum nampak kepermukaan atau masih dalam proses. Adanya forum seperti hal tersebut haruslah menjadi perioritas dalam mengembangan dan penguatan system kaderisasi kader putri.
Badan semi otonom seperti hal tersebut akan dipimpin oleh seorang kader yang tidak hanya mengkaji hal-hal keperempuan tetapi masalah keagamaan, kebudayaan dan hal-hal yan menjadi kebutuah kader dengan harapan kader putra dan kader putri benar-benar mampu bersaing dalam hal ini, baik melalui lembaga yang ada ataupu secara individu dalam masalah keilmuan
  1. Ideology Gerakan Gender Berbasis NDP dan ASWAJA
Ideology gerakan sangatlah perlu sebaai upaya tebangnya sebuah gerakan (bukan berarti murtad dariPKT) atau sebuah gerakan yang sudah terbangun sebelumnya. Namun sebenarnya satu gerakan dapat pula tebangun dengan apa yang kita lakukan saat ini dan berkelanjutan untuk meraih sumber gerakan (movement resources) dengan tidak hanya mengandalkan yang ada tetapi pro-aktif dalam informasi dan bersifat menggiring arus dengan prinsip mengambil hal yang baru yang baik dan mentradisikan yang lama yang baik.
Dengan demikian, persoalan yang terjadi sekarang bukanlah bagaimana gerakan perempuan berusaha memberdayakan perempuan tetapi bagaimana kader putri selalu aktif dalam ranah-ranah sesuai dengan karakter dan keilmuan yang diiliki sehingga ada persaingan antara peremuan dan laki-laki.
Tatanan hidup yang dimaksud tak lain adalah tatanan hidup sekuleristik yang tegak diatas Aqidah dan mengekung kehidupan kaum muslimin dimanapun. Aqidah ini menafikan peran Sang Khaliq dalam pengaturan kehidupan. Secara fakta, kerusakan ini adalah hal yang niscaya. Bagaimana bisa manusia yang sra lemah dan terbatas mampu membuat aturan kehidupan yang sempurna. Dalam hal ini agama coba kita sandingkan dengan gerakan putri yang juga tidak meninggalkan budaya-budaya tertentu.
Agama adala sumber utama peradaban dan sejarah manusisa. Ahlu Sunnah Wal Jamaah memiliki nuansa rahim agama. Diskursus tentang Ahlus Sunnah Wal Jamaah memiliki nuansa yang khas di Indonesia dan banyak diikuti oleh mayoritas umat islam walaupun manefes aktualisasinya berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Ideology gerakan gender akan sama dengan gerakan lainya yaitu menjadikan NDP sebagai landasan gerakan perempuan dan kajian keilmuanya dan ASWAJA sebagai gaya pola piker dalam proses mencari kebenaran ilmiah baik melaui hal yang formal, inforlmal dan non formal.

  1. Komunkasi dan Penguatan Jaringan
Sering sekali kader putri selalu tertingaal dan terdiskrimnasi oleh kader putra karena memang mereka mau didiskriminasikan. Salah satunya adalah penguatan jariingan, pola kerja antar struktur, mendistribusikan dan memanfaatkan akses jaringan denan kekuatan strategis karena disadari atau tidak PMI Kabupaten serang sebagian besar adalah kader putri. Hal ini seharusnya menadi kekuatan bagi gerakan PMII Kabupaten serang dan menjadi basis gerakan yang kuat bukan suatu kelemahan yang hanya melekat dalam majnasi kader.
D.     STRATEGI KADERISASI KADER PUTRI
  1. Strategi Pengembangan Kader Putri
Semua agama terlahir dari rahim realitas yang mempunyai konsep dan pesan universal untuk menuntun umat manusia mencapai kebahagiaan. Islam sendiri hadir dengan konsep Rahmatal Lil Alamin, sedangkan Kresten Protestan dan Katolik datang dengan membawa Ajaran Kasih Sayang untuk semua orang. Ajaran universal Islam maupun Kristen tidak dibatasi hanya untuk satu umat beragama maupun ragam kelompok social dan budaya. Agama secara tulus menjadi landasan transtemporal dan transosial yang termasuk prinsip dasar egalitarian pada umat manusia sehingga ketidak adilan, penindasan, permusuhan dan diskriminasi dalam bentuk apapun menjadi common enemy seluruh umat manusia. Gerakan kader putri PMII Kabupaten serang diharapkan mampu menjawab tantangan-tantangan diatas melalui tradisi,  budaya-budaya yang berada dalam lingkup agama.
Hal yang perlu dilakukan dan ditanamkan adalah menajaman materi tentang gender perspektif, menganalisa, pembacaan kritis dan memiliki sensitifitas gender dalam mensikapi berbagai peroalan dan fenomenanya, produk-produk kebijakan pemerintah, kemudian memberi alternative-alternatif gagasan yang lebih mengakar dan relevan dengan kepentingan masyarakat khususnya kaum perempuan.
Pembacaan yang kritis adalah pembacaan yang bersifat multidimensi dan berkelanjutan.
Strategi pengembangan kader putri secara singkat bisa dibagi menjadi dua hal yaitu internal dan eksternal yang memang selama ini menjadi persoalan dan tidak jarang menjadi kegelisahan kader:
1.       Persoalan Internal
a.       Penguatan Intitusional
·         Penguatan Ideologi dan Paragigma Gerakan
Penguatan ideology dalam sebuah organisasi sangatlah diperlukan, karena dalam ideoogi akan diurai berbagai teori dan ide yang menjadi akar dimulainya sebuah gerakan. Dengan adnya dasar nilai-nilai ideology tersebut mempermuda kader putrid untuk bergerak dengan tetap memegang nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah. Selai itu pemahaman terhadap paradigma gerakan juga menjadi bekal kader putrid untuk bisa secara cerdas melihat perubahan dan fenomena-fenomina yang saling terkait dalam berbagai bidang.
Salah satu yang mampu dikawinkan tentang Islam yang ada di PMII mungking ada bedanya dengan islam yang kita pahami pada umumnya. Islam di PMII adalah sebuah Spirit Idealisme gerakan, kalau sedikit meminjam atau bahasa agamanya Ghasab istilah dari sahabat Azam sebagai Normatif gerakan. PMII tidak mempossisikan islam sebagai agama yang akan menjadi dogma atau sebuah aliran (Aliran Agama Islam baru) akan tetapi sebagai Identitas dan Prinsip dalam memperjuangkan nilai-nilai universal islam itu sendiri.
Selanjutnya dalam pemahaman inilah islam di PMII dirumuskan dalam Nilai-Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang merupakan sublimasi dari ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yaitu tentang konsep Tauhid (Hablun Min Allah, Hablun Min Annas dan Hamlun Min Al-Alam). Kemudian rumusan tersebut ditafsirkan dalam Pradigma Kritis Transpormatif (PKT) sebagai Kacamata Sosial Politik dan dalam ASWAJA sebagai Manhaj Al-Fikr dalam gerakan moral yaitu (Keadilan, Moderat, Keseimbangan dan Toleransi). Sungguh luar biasa konsep yang ditawarkan oleh PMII dan cukup ideal untuk dilaksanakan agar kita bebas menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu dan tanpa memandang siapapun. Hal ini kemudian yang menjadi dasar penguatan ideology dan paradigma gerakan perempuan yang kemudian menjadi identitas kader putrid PMII Kabupaten serang
·         Pembenahan Peraturan Organisasi dan Menajmen Organisasi
Pembenahan organisasi dilakukan secara terus menerus, baik melalui structural ataupun cultural dengan asas kaderisasi pemberdayaan perempuan.
b.      Penguatan Intelektual
salah satu gerakan putrid yang harus menadi perhatian adalah penguatan intelektual kader-kader putri dimana saat ini kaderputri seolah seringberada dibawah kader putra. Oleh karenanya kesetaraan dalam inilah menjadi kewajiban individu dan pengurus untuk selalu dipupuk dan dikembangkan melalui forum-forum diskusi, pelatihan dan lmbaga-lembaga semi otonom lainya yang ada diwilayah komisariat ataupun rayon.Peningkatan kualitas kader akan dilatarbelakangi oleh beberapa kenyataa:
a.       Prosentase yang rendah keberadaan kader perempuan disetruktur kepengurusan, walaupun secara kuantitas jumlahnya lebih banyak dari kader putra.
b.       Rendahnya kader putrid yang duduk di tempat-tempat strategis dan tidak mau menempati dan membuat tempat strategis.
c.       Rendahnya kader putrid dalam pengembangan wacana dan mau didiskriminasikan oleh kader putra.
d.       Rendahnya minat untuk berkarier
2.       Persoalan Ekternal
Persoalan ekternal datang karena kurang bisanya kader putrid dalam menempatkan diri dan membagi wilayah, tanggung jawab dan lain sebagainya. Sebagian besar yang berangkatdari pesantren seolah terbatasi, sementara uang diluar pesantren merasa kurang bisa beradaptasi….apakah ini kekuatan ataukah kelemahan gerakan kader putri?
  1. System Kaderisas Kader Putri
Dalam sistem kaderisasi putri yang menjadi pola seperti bidang satu dan dua. Dalam beberapa program akan menjadi satu sesuai dengan wilayah kerja dan prosedunya dan secara umum ada tiga:
a.       Kaderisasi Formal
Kaderisasi formal akan ikut bergabung pada bidang satu seperti MAPABA, PKD dan PKL.
b.      Kaderisasi Non Formal
Kaderisasi ini dilaksanakan setelah pengkaderan formal yang khusus ditangani oleh kader purtri seperti
Pasca Mapaba:
·         Training Gender
·         Sekolah Analisa Sosial Gender
·         Training Leadership Perempuan
Pasca PKD:
·         Pelatihan Advokasi Gender
·         Pelatihan Fasilitator
Pasca PKL:
·         TOT Gerakan Perempuan
·         Pelatihan Gender Bughenting
c.       Kaderisasi Informal
Kaderisasi ini bisa dilakukan kapan dan dima saja melalui strategi dan kebutuhan tertentu dengan tidak melanggar kaidah ataunilai-nilai gerakan PMII. Beberapa hal yang biasanya menjadi acuhan adala:
a.       Mebangun kedekatan emosional sesama kader.
b.       Mendistribusikan kader perenmpuan baik di organisasi intra maupun ektra dan senantiasa mengawal.
c.       Roadshow, mendatangi anggota/ kader baik keasrama, kampus dan kost.
d.       Komunikasi via elektonik dengan kader.

E.      PENUTUP
Bidang tiga membawahi gender, keagamaan dan kebudayaanyang dikemas menjadi women central of leader (segala aktifita, kajian, pelatihan ataupun diskusi akan mendahulukan perempuan sebagai gerakan barisan depan) dengan harapan besar kader putrid yang menjadi mayoritas di PMII Kabupaten serang bisa bersaing baik di tingkatan lokal maupun nasional. Bahwa tak ada yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam masalah keilmuan tetapi yang embedakan adalah sistem, proses dan kemauan. Kalau bukan diri sendiri siapa yang akan merubah…….
Tangan terkepal dan maju kemuka....


MUSYAWARAH PIMPINAN CABANG
MUSPIMCAB I
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
TAHUN 2010
Tentang;
REKOMENDASI

POKOK – POKOK REKOMENDASI
1.       adanya pengorganisiran dan pembentukan wadah kader putrid sampai tingkat komisasriat (Komisi D)
2.       strategi pengerahan massa (Komisi B)
a.       sosialisasi
b.       konsulidasi
c.       penentuan strategi
d.       plaksanaan aksi
3.       bantuan fasilitas kader eksak dalam pelatihan dan bimbingan diskusi
4.       adanya pembagian (klasifikasi) tentang keanggotaan (Komisi A)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar